IHSG terjun ke dasar 5.342 akibat koreksi saham AI global dan eskalasi AS–Iran, lalu memantul membentuk pola "V". Titik baliknya bersamaan dengan langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga di luar jadwal untuk menahan pelemahan rupiah.
Sepuluh sesi, 2–15 Juni 2026. Lilin hijau=naik, merah=turun. Penanda diberi warna menurut jenis kejadian. Batang bawah=arus dana asing (net, Rp T).
Rupiah bergerak berlawanan dengan IHSG. Lilin merah=rupiah melemah, hijau=rupiah menguat. Perhatikan: kenaikan suku bunga 9 Juni menjadi titik balik penguatan rupiah.
Urutan peristiwa yang menggerakkan pasar sepanjang dua pekan — dari pemicu eksternal hingga respons kebijakan dalam negeri.
Aksi jual saham AI/semikonduktor global memburuk; Wall Street & bursa Asia tertekan, memicu arus keluar dana asing dari pasar berkembang termasuk Indonesia.
Pernyataan bersama Menteri Keuangan & Gubernur BI menegaskan koordinasi fiskal–moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
IHSG menyentuh dasar 5.342 (−13,8% sejak awal Juni); KOSPI anjlok ~8% memicu kekhawatiran regional.
Bank Indonesia menaikkan BI-Rate +25 bps menjadi 5,50% dalam RDG Mingguan — di luar jadwal RDG Bulanan. Ini lanjutan kenaikan 50 bps pada Mei (ke 5,25%), demi menstabilkan rupiah dan menjaga inflasi di sasaran. Hari yang sama, IHSG rebound +7,6%.
AS melancarkan serangan ke sasaran di Iran (balasan jatuhnya helikopter AS dekat Selat Hormuz). Data inflasi AS (CPI) Mei +4,2% yoy — tertinggi sejak 2023 — menambah kekhawatiran suku bunga The Fed.
Iran mengancam menutup Selat Hormuz (jalur ~20% minyak dunia); harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran $94–95/barel.
RDG Bulanan BI terjadwal. Pasar menanti arah kebijakan suku bunga lanjutan setelah dua kenaikan beruntun.
Empat pelajaran bagi investor pasar modal dari volatilitas Juni 2026.
Pelemahan rupiah dan arus keluar asing direspons BI dengan kenaikan suku bunga di luar jadwal. Titik balik penguatan rupiah dan rebound IHSG terjadi bersamaan — menegaskan peran kebijakan moneter sebagai jangkar saat tekanan eksternal memuncak.
Koreksi dipicu saham AI global dan geopolitik AS–Iran. Begitu kebijakan merespons dan kepanikan reda, pasar pulih membentuk pola "V". Penurunan tajam tak selalu berarti kerusakan fundamental.
Pada pantulan 9–10 Juni, asing masih net jual (−Rp2,4T & −Rp3,1T); aliran masuk baru muncul 12 Juni. Konfirmasi tren memerlukan kembalinya dana asing, bukan sekadar lonjakan harga sehari.
Kenaikan BI-Rate menstabilkan rupiah, namun menaikkan biaya dana — berdampak ke kredit, emiten sensitif bunga (properti, otomotif), dan beban utang. Cermati sektor saat menata portofolio.